Mencetak pesepak bola profesional yang matang untuk masa depan bukan pekerjaan mudah. Banyak hal memengaruhi kematangan pesepak bola. Salah satunya adalah meletakkan fondasi yang kokoh di saat mereka masih usia belia. Pada titik inilah peran orangtua begitu sentral dalam membimbing pesepak bola meniti karier di jalan yang tepat.
Apalagi saat ini kesempatan bermain dan terus berkembang sangat perlu diperoleh pesepak bola usia belia. Namun, kompetisi sepak bola usia muda di Indonesia masih tergolong minim.
Celah ini dimanfaatkan oleh Persebaya dengan menyelenggarakan Persebaya Youthcon 2026. Berlangsung dari 16 Juli 2026 sampai 19 Juli 2026, Persebaya Youthcon disambut antusias oleh para pesertanya. Utamanya bagi para partisipan Persebaya 7. Ketika mengetahui Persebaya 7 digelar di Lapangan A dan B area komplek Gelora Bung Tomo, beberapa peserta semakin bersemangat. Salah satunya datang dari Denny Soccer Academy, Jember.
“Waktu tahu kalau main di Gelora Bung Tomo, anak-anak langsung semangat. Ini jadi salah satu daya tarik tersendiri untuk Persebaya 7. Kapan lagi kan main di lapangan yang biasanya pemain Persebaya latihan,” ujar Denny Ariyanto, kepala pelatih Denny Soccer Academy, Jember.
Yup, bisa bermain di Lapangan A dan B area komplek Gelora Bung Tomo menjadi salah satu mimpi pesepak bola usia muda. Pasalnya di lapangan yang sama pula idola mereka yang berseragam Persebaya mengasah ketangkasan dan berlatih.
“Siapa tahu kan bisa jadi kayak pemain Persebaya, Mas. Sebagai orang tua kita ini tugasnya cuman mendampingi sama mendukung saja,” ungkap Nur Rohimah, orang tua dari Fairuz Az Zimammi, penggawa Indonesia Muda U10.

Doa-doa baik ternyata juga dipanjat oleh barisan orang tua yang menemani langkah anak-anak mereka selama merumput di Persebaya 7. Bukan menuntut kemenangan. Bukan juga mengharuskan anaknya harus mencetak gol.
“Selama anak ini suka main bola dan serius, kami ya harus mendukung minat dan hobi mereka,” sambung Nur Rohimah.
Hal serupa juga diungkapkan oleh orang tua dari Locita Waranggani, pemain Juanda FC. Prestasi Locita terbilang harum. Ia beberapa kali terpilih sebagai pemain terbaik pada ajang-ajang besar. Namanya pun sempat masuk dalam radar salah satu klub Filipina.
“Saya sebagai orang tua ini nggak pernah menuntut Locita untuk harus bisa berprestasi di sepak bola. Pokoknya dia harus menikmati aja waktu latihan, waktu tanding juga,” ucap Damayanti, ibu dari Locita.
“Seumuran Locita ini sepak bola harus dibuat menyenangkan. Ditanamkan kalau lewat sepak bola mereka ini bisa dapat banyak teman. Mengajarkan hal-hal kehidupan yang lain. Respect terus belajar menerima kekalahan juga,” imbuhnya.
Hampir seluruh partisipan Persebaya 7 sepakat bahwa ajang tersebut menjadi kesempatan para pemain mereka untuk berkembang. Ini menjawab perihal arah pembinaan usia muda yang ada di Surabaya.
Bahwa di tiap klub, perkembangan pemain menjadi tujuan utama. Pembentukan mental dan karakter yang baik sebagai pesepak bola senantiasa menjadi salah dua aspek yang paling dikedepankan.
.jpg)
Pemain muda dibentuk untuk terus belajar dan tidak takut gagal. Orangtua juga diminta untuk terus mendukung tanpa membebani pemain dengan obsesi emraih kemenangan.
“Setiap latihan atau waktu tanding, saya selalu bilang ke anak-anak untuk jangan takut berbuat salah. Jangan pula saling menyalahkan. Kalau misal temannya kelewat. Nggak masalah. Kan masih bisa dicover atau dibantu,” Ciko Sayubi, kepala pelatih Betiring FC.
Sinergi positif ini juga semakin menegaskan satu hal. Bahwasannya setiap pihak, orangtua, klub, pelatih, sepatutnya satu suara untuk melindungi generasi penerus bangsa. Menjaga semangat, mengarahkan, serta menjadi jembatan untuk anak-anak mengembangkan bakatnya. Selamat Hari Anak Nasional. Sampai bertemu di Persebaya Youthcon 2027!(*)