Perjalanan ke Surabaya begitu istimewa. Bagi 14 pemain Laga Sota Pamekasan, perjalanan itu bukan sekadar berpindah kota untuk mengikuti kompetisi. Mereka datang membawa semangat, rasa penasaran, sekaligus mimpi untuk menguji kemampuan di panggung yang lebih besar, yakni kompetisi Persebaya 7 (Sepak Bola 7) KU 12 dalam rangkaian Persebaya Youthcon 2026.
Di balik antusiasme para pemain cilik itu, ada sosok Selamet Wahyudi yang terus mendampingi mereka. Bersama rombongan sekitar 30 orang yang terdiri dari pemain, pelatih, dan pendamping, mereka menempuh perjalanan selama empat jam. Perjalanan yang cukup jauh itu tak mengurangi semangat anak-anak untuk merasakan atmosfer kompetisi yang mempertemukan tim-tim dari berbagai daerah.
Bagi Coach Wahyu, panggilan akrab Selamet Wahyudi, mengikuti Persebaya 7 bukan semata-mata soal mengejar gelar juara. Kompetisi seperti ini menjadi ruang belajar yang sangat penting bagi pemain usia dini. Mereka mendapat kesempatan menghadapi lawan dengan karakter permainan yang berbeda, sekaligus membangun pengalaman yang tak bisa diperoleh hanya dari latihan rutin.
"Yang paling penting adalah pengalaman bermain mereka bertambah," ujar Coach Wahyu.
Menurutnya, para pemain Laga Sota memang sudah cukup akrab dengan atmosfer turnamen. Mereka rutin mengikuti berbagai kompetisi di luar Pamekasan agar perkembangan kemampuan anak-anak terus terasah. Namun, setiap turnamen tetap menawarkan pelajaran baru.
Selain meningkatkan kualitas permainan, Coach Wahyu juga ingin anak-anak menikmati sepak bola sebagai aktivitas yang menyenangkan. Bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah, saling mengenal, hingga merasakan atmosfer pertandingan yang kompetitif menjadi bagian penting dalam proses tumbuh mereka sebagai pesepak bola muda.
Ia percaya, pengalaman positif seperti inilah yang akan membuat anak-anak semakin mencintai sepak bola dan termotivasi untuk terus berkembang.
Semangat itu juga lahir dari pengalaman pribadi Coach Wahyu. Sebelum menjadi pelatih, ia pernah merasakan pembinaan sepak bola usia muda saat memperkuat Elite Pro Academy (EPA) Madura United. Pengalaman tersebut membuatnya memahami betapa pentingnya kompetisi yang berjenjang bagi perkembangan pemain muda.
Kini, pengalaman itu ia coba tularkan kepada anak-anak didiknya di Pamekasan. Ia ingin mereka memiliki kesempatan yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya.
Menurutnya, pembinaan sepak bola usia dini di Madura, khususnya Pamekasan, masih menghadapi tantangan. Salah satu yang paling terasa adalah terbatasnya jenjang kompetisi dan wadah lanjutan bagi pemain yang ingin terus berkembang setelah melewati usia dini.
Meski demikian, ia optimistis kondisi tersebut perlahan akan berubah. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari komunitas sepak bola, orang tua, hingga semangat anak-anak sendiri, menjadi modal penting untuk membangun ekosistem pembinaan yang lebih baik.
"Semoga ke depan pembinaan sepak bola usia dini di Madura semakin berkembang karena semua elemen mulai ikut mendukung," tutupnya.
Bagi Laga Sota, Persebaya Youthcon 2026 menjadi lebih dari sekadar agenda turnamen. Ajang ini adalah kesempatan untuk membuka cakrawala baru bagi para pemain muda, memperluas pertemanan, menambah pengalaman bertanding, sekaligus menjaga agar kegembiraan bermain sepak bola tetap menjadi alasan utama mereka terus mengejar mimpi.