Aksi Locita Waranggani Olah Nismara, pemain Juanda FC, mencuri perhatian sepanjang gelaran Persebaya 7 yang berlangsung di Lapangan A dan B area komplek Gelora Bung Tomo.
Keterampilan dan ketenangannya ketika menggiring bola begitu enak dilihat. Apalagi ia jadi satu-satunya pemain putri yang selalu main reguler. Caranya mengatur tempo permainan dan juga memberi umpan juga begitu memanjakan teman-temannya.
Usut punya usut, Loli sudah terbiasa merumput sejak dini. Saat masih berumur lima tahun ia sudah meminta kepada dua orang tuanya untuk didaftarkan ke klub sepak bola.
“Awalnya itu dia suka tari. Ada satu momen waktu ikut tari itu bikin Locita nggak pede. Nah, akhirnya ganti lah hobinya ke olahraga. Kebetulan main sepak bola. Anaknya sendiri yang minta buat didaftarkan ke klub hehehe,” ungkap Damayanti, mama dari Locita.
Setelah momen tersebut, prestasi demi prestasi mengiringi perjalanan karier sepak bola Locita. Ia sempat terpilih masuk dalam skuad Indonesia yang berlaga di Singapura. Locita juga beberapa kali menyandang status sebagai pemain terbaik di kompetisi-kompetisi ternama.
“Locita ini jadi pemain terbaik itu ada sekitar lima kali. Ia jadi pemain terbaik itu tandingnya sama anak-anak cowok. Kan ini secara nggak langsung dia bisa menginspirasi teman-temannya yang lain,” ujarnya.
Locita juga sempat terpilih sebagai pemain terbaik Piala Pertiwi yang diselenggarakan di Solo pada beberapa waktu lalu.

“Saya sebagai orang tua ini nggak pernah menuntut Locita untuk harus bisa berprestasi di sepak bola. Pokoknya dia harus menikmati aja waktu latihan, waktu tanding juga,” ucapnya.
Mama Damayanti juga menambahkan, “Karena kan Locita ini masih ada di tahap pembinaan. Jadi biarkan dia itu sekreatif mungkin main di lapangan. Harus enjoy pokoknya. Sebagai orang tua ya tugasnya mendukung dan nonton aja. Jangan dikasih tekanan, apalagi kan dia anak perempuan,” ceritanya.
Sang mama juga berharap prestasi yang ditorehkan oleh anaknya bisa menginspirasi anak-anak perempuan yang juga sama-sama menekuni di dunia sepak bola.
“Harapannya sih semoga Locita bisa menginspirasi anak-anak lain untuk bermain sepak bola dengan cara menyenangkan. Dengan cara itu pasti anak-anak cepat untuk mengerti main sepak bola,” tandasnya.
Jika Locita menekuni sepak bola karena beralih dari seni tari, berbeda lagi dengan Winston Wibowo, kiper Indonesia Muda U14. Perjalanannya menekuni sepak bola bermula dari ketidaksengajaan.
“Jadi waktu itu ada teman sekolah yang ajak aku main futsal. Dia lihat tinggi aku itu oke buat jadi kiper, jadinya aku diajak. Eh, dari situ aku semakin suka sama sepak bola dan suka menjadi koper,” ungkapnya.
Orang tuanya sempat kaget ketika mengetahui bakat ketangkasan anaknya di dunia sepak bola.

“Orang tua aku sempat tanya, yakin kah sama pilihanku di sepak bola. Nah, itu jadi tambahan semangatku untuk terus berlatih giat agar jadi kiper yang jago,” ucapnya.
Kala merumput di Persebaya 7, Winston sempat gugup d gim-gim pertama, tapi ia ingat satu hal. Dukungan kedua orang tua ia jadikan sebagai formula semangat untuk mengusir rasa gugup yang ada dalam diri.
“Aku sempat gugup waktu pertama kali main. Tapi, aku ingat orang tua aku ini dukung aku banget. Jadinya aku nggak mau mengecewakan mereka,” ceritanya.
Winston juga menambahkan, “Aku mau bilang terima kasih untuk orang tuaku yang sudah dukung aku banget. Aku akan terus berusaha untuk kasih yang terbaik buat mereka,” terangnya.
Oh iya, Winston juga berharap bisa bertemu dengan Ernando Ari suatu hari nanti. Ia begitu mengidolakan Ernando bukan karena kepiawaiannya menjaga gawang Persebaya saja.
“Aku suka Ernando itu karena mentalnya. Sebagai kiper dia nggak terlalu tinggi, tapi usaha dia buat tetap jadi kiper utama itu yang luar biasa,” tandasnya.
Persebaya 7 memang melahirkan banyak cerita baru. Menumbuhkan banyak asa yang terus menyala. Dari kaki-kaki kecil yang berlari tanpa takur, lahir harapan besar tentang masa depan sepak bola Indonesia. Jalan adik-adik ini masih panjang. Ini adalah pijakan yang menjanjikan untuk mereka.