All the way from Lamongan. Akademi Persela Lamongan jadi salah satu partisipan di Persebaya Youthcon 2026. Mereka berlaga di kategori U10 pada Persebaya 7. Bukan kemenangan yang mereka incart. Para penggawa Akademi Persela juga mencari ilmu dan juga jam terbang agar semakin piawai dalam mengolah si kulit bundar.
“Kami selalu menekankan kalau main bola itu harus bahagia, Nah, bagian belajarnya itu kami berikan ketika anak-anak bertanding,” ungkap Khoiruzzaman Assyabani, kepala pelatih Akademi Persela U10.
Menariknya, Akademi Persela sudah berencana untuk terjun di Persebaya 7 sejak lama.
“Dari awal kami memang ingin ikut Persebaya 7. Karena ini jadi kesempatan anak-anak untuk bertanding dan belajar. Kami berangkat bersama dari Lamongan. Dan manajemen mendukung penuh kegiatan ini,” ucapnya.
Berangkat sejak pagi dari Lamongan, anak-anak Akademi Persela tampak antusias saat datang di Lapangan A dan B area komplek Gelora Bung Tomo.
“Sebenarnya bukan cuman anak-anak yang antusias. Orang tua juga sangat antusias. Ini sesuai sama ekspektasi kami sebagai pelatih. Orang tua dan anak-anak sama-sama punya spirit yang sama,” ceritanya.
Coach Azman juga menambahkan, “Persebaya 7 itu ibarat ulangan untuk anak-anak. Mereka belajar banyak dari sini dan rapor itu jadi evaluasi kita. Tahun depan sudah pasti harus ada lagi,”

Semangat belajar juga diusung oleh tim Putra Surabaya (Pusura) U14. Dari pinggir lapangan, sang pelatih, Wahyu Imam Alhadi, menginstruksikan anak-anaknya untuk berkomunikasi ketika di dalam lapangan.
“Di Pusura itu juga diajarkan mengenai nilai-nilai jiwa kepemimpinan. Jadi bukan hanya soal teknik sepak bolanya. Mereka juga harus saling menjaga satu sama lain,” ungkap sang pelatih.
Wahyu juga meanmbahkan, “Ada satu kejadian, saya cuman bilang ke pelatih, coba tanya ke wasit dan minta penjelasan. Sebagai kapten kan dia harus punya jiwa kepemimpinan dan mengayomi teman-temannya,”
Menurutnya, pelajaran soal kepemimpinan didapat ketika para pemainnya berlaga. Dan ini jadi salah satu kesempatan berharga untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

“Di Pusura itu juga menekankan untuk menghargai satu sama lain. Jiwa respect itu bukan hanya ke teman sendiri, tapi juga ke lawan” terangnya.
Wahyu pun berharap kompetisi Persebaya 7 bisa konsisten digelar untuk beberapa tahun mendatang.
“Wajib diadakan setiap tahun. Ini jadi kesempatan untuk kami sebagai tim berproses bersama. Karena hasil di sini kami jadikan bahan evaluasi untuk pemain dan juga untuk pelatih juga. Bergerak bersama,” tandasnya.
Ya, Persebaya 7 jadi kesempatan para partisipan untuk belajar. Bukan sekadar berkompetisi melainkan juga mencari ilmu demi maju bersama.