"Aku nggak mau mengecewakan pemain lain dan orang tua," ucap Bara Ibrahimmanav dengan mata berkaca-kaca usai peluit panjang mengakhiri pertandingan Persebaya 7 kategori U-10 di Kompleks Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya.
Kapten Bima Amora asal Gresik itu tak mampu menyembunyikan kesedihannya setelah timnya harus mengakui keunggulan lawan. Kalimat sederhana tersebut menunjukkan betapa besar rasa tanggung jawab yang dipikul seorang anak berusia 10 tahun.
Namun, kesedihan itu tak berlangsung lama. Sejumlah ibu yang sejak awal setia memberikan dukungan dari pinggir lapangan segera menghampiri Bara. Mereka bukan pelatih atau ofisial tim, melainkan para orang tua pemain Bima Amora yang datang jauh-jauh dari Gresik untuk mendampingi anak-anak mereka bertanding. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa kekalahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan.
Pelukan, usapan di kepala, hingga kata-kata penghibur langsung diberikan kepada Bara dan rekan-rekannya. Tak ada amarah ataupun tuntutan karena gagal meraih kemenangan. Yang terdengar justru kalimat-kalimat penyemangat agar anak-anak kembali tersenyum. "Wis gak popo, sing penting Minggu nonton Persebaya," ujar Mela, ibu dari Adrian Pradipta Utomo, sembari menghibur mereka.

Potret Bara saat Ditenangkan oleh Rekan-rekan Tim Lawan
Bagi Bima Amora, Persebaya 7 yang menjadi bagian dari Persebaya Youthcon 2026 bukan sekadar turnamen biasa. Klub asal Gresik tersebut memang sudah beberapa kali mengikuti kompetisi usia dini. Namun, inilah kali pertama mereka merasakan atmosfer sebuah festival sepak bola berskala besar.
Pelatih Bima Amora, Sultan Trio Pangestu, mengatakan pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pemainnya.
"Kami sudah beberapa kali ikut kompetisi. Tapi Persebaya Youthcon adalah event besar pertama yang kami ikuti," ujarnya.
Menurut Sultan, hasil pertandingan memang penting sebagai bahan evaluasi. Namun, pengalaman bertanding di lingkungan kompetitif seperti Persebaya 7 jauh lebih berarti untuk membentuk mental dan karakter anak-anak.
Semangat yang sama juga ditunjukkan para orang tua. Mela memahami keinginan setiap anak untuk membanggakan keluarga mereka. Namun, ia bersama orang tua lainnya sepakat tidak ingin membebani anak-anak dengan target kemenangan.
"Yang wajar untuk anak-anak itu mereka ingin membanggakan orang tuanya. Tapi kami sebagai orang tua tidak pernah memberi tekanan harus menang," katanya.
Baginya, kemenangan bukanlah tujuan utama. Jauh lebih penting, anak-anak mendapat pengalaman, menikmati proses, dan pulang dengan pelajaran baru dari setiap pertandingan.
Di sisi lain lapangan, Wulan, ibu dari Bara Ibrahimmanav, menjadi orang pertama yang menenangkan putranya setelah pertandingan usai. Ia memahami betul mengapa Bara menangis. Sebagai kapten tim hari itu, sang anak merasa bertanggung jawab atas hasil yang diraih timnya.
Alih-alih membiarkan kesedihan berlarut, Wulan memilih menjadikan momen tersebut sebagai pelajaran.

Pemandangan yang Memperlihatkan Persebaya 7 bukan Sekadar Kompetisi
"Tadi yang menangis itu anak saya. Kami berusaha menenangkan dia karena masih ada kesempatan lain yang bisa dimanfaatkan," ujarnya.
Menurut Wulan, mengikuti kompetisi seperti Persebaya 7 juga menjadi proses belajar bagi para orang tua untuk memahami perkembangan karakter anak-anak mereka.
Hal senada disampaikan Nur, ibu dari Evano Pramudya Muhammad Adha. Menurutnya, sepak bola memberikan manfaat yang jauh melampaui hasil akhir pertandingan.
"Yang paling penting mereka mendapat pengalaman yang suatu saat bisa menjadi cerita ketika dewasa, membentuk fisik, sekaligus menyalurkan waktu mereka ke aktivitas yang positif," tuturnya.
Pemandangan di Persebaya 7 pagi itu memperlihatkan bahwa pembinaan sepak bola usia dini tidak hanya berlangsung di dalam lapangan. Di balik setiap anak yang berjuang mengejar bola, ada orang tua yang setia menjadi penyemangat saat mereka menang dan pelukan pertama ketika mereka pulang dengan kekalahan. Justru dari dukungan tanpa syarat itulah, mimpi-mimpi besar anak-anak mulai tumbuh. (*)