Persebaya Youthcon 2026 bukan sekadar event rangkaian perayaan ulang tahun ke-99 Persebaya. Festival yang digelar pada 16-19 Juli 2026 di kawasan Kompleks Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya itu menjadi ruang pertemuan berbagai mimpi anak muda. Dari kompetisi sepak bola 7 hingga festival musik, semangat untuk bertumbuh dan berkembang terasa di setiap sudut acara.
Sebanyak 58 tim dari berbagai daerah di Jawa Timur ambil bagian dalam ajang ini. Mereka datang membawa semangat yang sama: menunjukkan kemampuan, bertemu teman baru, sekaligus menikmati pengalaman yang tidak selalu bisa ditemukan dalam kompetisi biasa.
Mengusung konsep festival experience, Persebaya Youthcon memadukan olahraga, musik, industri kreatif, dan youth movement dalam satu wadah. Melalui tagline "From and For The Youth!", Persebaya ingin menghadirkan ruang yang memungkinkan generasi muda berekspresi sekaligus mengembangkan potensi mereka.
Di tengah riuhnya pertandingan dan berbagai aktivitas festival, hadir pula para pelatih serta orang tua yang menjadi bagian penting dalam perjalanan para peserta. Mereka bukan hanya mengantar anak-anak datang ke lapangan, tetapi juga menjadi saksi tumbuhnya karakter dan kecintaan terhadap olahraga sejak usia dini.
Salah satunya datang dari Keeltjes Soccer Academy. Akademi yang didirikan oleh mendiang Rudy Keltjes itu turut meramaikan Persebaya Youthcon 2026 dengan mengirimkan pemain-pemain muda mereka. Totalnya 14 orang. Yang bertanding di kategori U12. Keikutsertaan itu juga didorong karena adanya semangat yang sama antara nilai-nilai di Keeltjes Soccer Academy dengan kompetisi Youthcon.
Pelatih Keeltjes Soccer Academy, Lingga Juan Utomo, bercerita bahwa akademi tersebut selama ini aktif membina pemain usia 5 hingga 17 tahun. Baginya, melatih anak-anak usia dini memiliki tantangan tersendiri. Pada usia tersebut, para pemain masih berada dalam tahap pembentukan karakter dan kebiasaan sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda dibanding pemain yang lebih dewasa.
Menurut Lingga, tugas pelatih tidak hanya mengajarkan teknik sepak bola. Cara berbicara, memberi arahan, hingga menunjukkan sikap sehari-hari menjadi contoh yang mudah diserap oleh anak-anak. Karena itu, proses pembinaan usia dini selalu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.
"Yang utama adalah menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap olahraga terlebih dahulu," ujar Lingga.
Ia juga melihat semakin banyak orang tua yang memilih memasukkan anak mereka ke akademi sepak bola sebagai sarana kegiatan positif. Selain mengembangkan kemampuan motorik, anak-anak juga belajar bersosialisasi, bekerja sama, dan mengisi waktu luang dengan aktivitas yang bermanfaat, terutama saat masa liburan sekolah.
Bagi Lingga, kehadiran Persebaya Youthcon menjadi kesempatan berharga bagi pemain-pemain muda untuk mendapatkan pengalaman baru. Mereka tidak hanya bertanding, tetapi juga merasakan atmosfer festival yang berbeda dari kompetisi rutin yang biasa dijalani.
"Harapan saya, event seperti ini bisa terus berlanjut setiap tahun," katanya.
Semangat serupa juga datang dari para orang tua peserta. Hendyk Yulinanto, salah satu orang tua yang mendampingi anaknya mengikuti kegiatan sepak bola, menilai olahraga dan pendidikan harus berjalan beriringan.
Anaknya saat ini aktif berlatih sepak bola, termasuk di Persebaya Academy. Namun di balik dukungannya terhadap karier olahraga sang anak, Hendyk memiliki satu prinsip yang selalu ia pegang: prestasi akademik tidak boleh ditinggalkan.

Potret Evandra Nathannael Yulinanto, Anak Hendyk Yulianto yang sedang Bertanding untuk Kategori U12
Menurutnya, menjadi atlet memang membuka banyak peluang. Namun kehidupan setelah masa kompetitif juga harus dipersiapkan sejak dini. Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya pendidikan agar anak-anak memiliki bekal ketika suatu saat tidak lagi aktif sebagai atlet.
"Atlet boleh, tapi pendidikan tetap harus jadi prioritas," tegas Hendyk.
Ia mengapresiasi pendekatan yang diterapkan Persebaya Academy karena tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan bermain sepak bola, tetapi juga pembentukan karakter para pemain muda. Baginya, hal tersebut penting untuk membantu anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dan bertanggung jawab.
Ketertarikan anaknya terhadap sepak bola sendiri berawal dari kebiasaan menonton pertandingan bersama keluarga. Dari sana muncul ketertarikan terhadap sosok-sosok pemain idola yang kemudian memotivasi mereka untuk mulai berlatih secara serius.
Di Persebaya Youthcon 2026, kisah-kisah seperti milik Lingga dan Hendyk hadir dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Ada pelatih yang dengan sabar mendampingi proses belajar para pemain muda. Ada orang tua yang rela meluangkan waktu demi mendukung mimpi anak-anak mereka. Dan tentu saja ada ratusan peserta yang datang membawa harapan untuk berkembang melalui olahraga. (*)